8 Film Pilihan Pasca Kemenangan Donald Trump

Kau bisa hidup di belahan lain bumi, berjarak ribuan mil daratan dan samudra, atau terhalang perjalanan udara komersil yang mahal, tapi mengabaikan dampak terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat mungkin akan dianggap sebagai sikap yang ignoran. Meskipun gelar misoginis dan rasis hanya sedikit sebutan yang orang-orang bisa katakan tentang Donald Trump, namun hasil pemilu elektoral Amerika Serikat tetap mendaulat Ia sebagai pemimpin tertinggi di sana.

Satu hari pasca pidato kemenangan Donald Trump, masyarakat Amerika Serikat merasa seperti kembali ke masa buntut peristiwa Sebelas September. Protes berlangsung di jalan-jalan. Aksi intoleransi terjadi di tempat-tempat umum. Simbol supremasi kulit putih mengotori tembok-tembok. Kau mungkin tak bisa mencegahnya, atau kau juga sama sekali tidak peduli, tapi kau bisa sedikitnya mempersiapkan diri untuk hal-hal lebih buruk. Daftar film-film berikut mungkin bisa memberikan sedikit perspektif untuk masa yang akan datang (atau tidak, terserah), tapi bagaimanapun setidaknya kau sudah menonton film:

1. 2012 (2009)

221973-apocalyptic-and-post-apocalyptic-fiction-2012-screenshot

Sebatas pertunjukan kiamat dan kehancuran di film ini sudah cukup relevan dengan yang orang bisa bayangkan sekarang.

2. The  Purge (2013)

could-the-purge-actually-happen-in-real-life-the-purge-2013-1007310

Puji The New Founding Fathers. Amerika Serikat Tahun 2022: tingkat kriminal rendah, pengangguran hampir tak ada, dan kemakmuran meningkat. Dalam satu hari yang ditetapkan setiap tahun, aksi kriminal dilegalkan. Ethan Hawke berperan sebagai pegawai perusahan yang menjual perangkat keamanan rumah yang harus melindungi keluarganya, ketika seorang pria kulit hitam harus menjadi target purge oleh sekelompok kaum “haves” yang dipenuhi oleh pemuda kulit putih. Kalau dihitung, 2022 hanya berjarak 6 tahun untuk Donald Trump sampai di sana.

3. Planet of the Apes (2001)

planete-des-singes-22-g

Versi remake sci-fi klasik yang dibuat oleh Tim Burton ini menceritakan seorang astronot (Mark Wahlberg) yang terdampar di suatu planet asing dalam misinya menyelamatkan seekor kera. Yang mengejutkan, planet tersebut adalah planet yang dihuni oleh kera-kera pintar yang mampu berbicara dan hidup di masyarakat dengan struktur sosial politik layaknya manusia. Tak lama, protagonis kita telah menjadi aktor politik dibalik pemberontakan terhadap kepemimpinan seekor kera militan, General Thade. Meskipun Thade bukan kera oranye elitist pemilik bisnis hotel dan host reality TV di planet kera, orang sedikit banyak bisa merasa relevan saat teror datang dari sosok yang juga sama tak diduga-duga. Planet of the Apes dikritisi hanya memiliki kualitas B dari segi cerita dan plot, meskipun dengan desain produksi dan kostum yang selayaknya dipuji.

4. Idiocracy (2006)

idiocracy

Joe Bowers (Luke Wilson) adalah seorang prajurit militer dengan level inteligensi biasa-biasa yang mengikuti eksperimen hibernasi selama satu tahun, tapi sialnya baru terbangun di tahun 2505 Amerika yang dipimpin oleh Presiden Camacho (Terry Crews). Sekarang di saat semua orang telah menjadi bodoh tak terkira, Joe adalah harapan satu-satunya untuk menyelamatkan masa depan manusia.

Kalau kebanyakan karya satire menampilkan sindiran yang subtil, Idiocracy sukses menjadi satire dengan cara paling transparan namun harus diakui, mengesankan. Idiocracy menunjukkan akurasi yang mengagumkan ketika Donald Trump, yang sering dibandingkan dengan President Camacho, akhirnya menjadi pemimpin tertinggi Amerika Serikat mewujudkan lelucon tak terkira semua orang. Distopia yang ditampilkan Idiocracy mungkin masih terlalu brutal dan jauh, tapi di titik ini rasanya tidak ada lagi yang tidak mungkin.

5. V for Vendetta (2005)

maxresdefault

V for Vendetta adalah film adaptasi dari novel grafis karya Alan Moore dan David Lloyd yang menggambarkan kondisi Inggris di bawah pemerintahan totalitarian. Seorang pria yang dikenal sebagai V (Hugo Weaving), memakai topeng dan menjadi sosok vigilante dan simbol perlawanan terhadap kondisi masyarakat yang tertindas. Kutipan paling diingat dari film ini, “behind this mask there is more than just flesh. Beneath this mask there is an idea, and ideas are bulletproof”, mungkin saja bisa menjadi pendorong gerakan revolusi kalau itu bisa terjadi kapanpun, dan jika siapapun mau memakainya. Tapi sejujurnya, ide adalah ide, dan peluru jelas terbuat dari materi yang berbeda dengan ide.

6. District 9 (2009)

d9jpg-1ddd4c_1280w

Film Sci-fi bergaya dokumenter yang ditulis dan diarahkan oleh Neill Blomkamp ini masih disebut sebagai film genre yang menetapkan Blomkamp sebagai salah satu sutradara dengan ciri yang khas, khususnya pada aspek teknis. Afrika Selatan kedatangan makhluk asing dari luar angkasa. Berbeda dengan film yang umumnya menampilkan alien yang menginvasi manusia, di sini alien ditunjukkan sebagai pendatang yang diperlakukan seperti pengungsi dan tinggal di wilayah bernama District 9. Meskipun mengambil latar fiksi ilmiah, District 9 menggunakan tema politis yang relevan dengan tak hanya sejarah Afrika Selatan, tapi juga dunia di masa sekarang. Disengaja atau tidak, sampai akhir cerita kita tak pernah tahu agama dari spesies alien pengungsi di cerita ini.

7. Gattaca (1997)

54064-gattaca

Di dunia masa depan dengan kemajuan bioteknologi mutakhir, keterbatasan fisik adalah hal yang tak seharusnya dimiliki manusia. Gattaca menampilkan Ethan Hawke sebagai Vincent, pria yang dikandung secara alami tanpa modifikasi biologis di level genetis. Sebuah proyek yang akan mengirim manusia ke Titan membuat Vincent berusaha mewujudkan mimpi ambisiusnya, meskipun statusnya sebagai “In-valid”. Gattaca menunjukkan kondisi masyarakat yang menerapkan sistem penyempurnaan manusia. Di setting Biopunk Gattaca, status seseorang hanya ditentukan oleh identitas biologis yang tercetak di dalam DNA. Dan salah satu ciri yang dikontrol oleh materi genetik dalam DNA manusia adalah: warna kulit.

8. Wall-E (2008)

best-pixar-movie-romance

Tidak ada gunanya terlalu memikirkan soal apa pun. Tontonlah film sangat bagus ini.

Lompatan Kenji Tamura

wallup.net

(Gambar: Cat Astronaut, diambil dari WallpaperFolder)

 

Aku selalu membayangkan akan mati dari ketinggian.

Kalau kau mengenal Kenji, besar kemungkinan kau penah mendengarnya mengatakan hal seperti itu. Atau bisa saja, kalau nanti aku mati, pasti karena terjatuh. Yang lain bisa juga, ini bukan fobia, aku hanya yakin akan mati dari ketinggian. Yang mana pun, kau bisa menebak kalau Kenji menyimpan pikiran yang mengganggu kepalanya sejak lama.

Sewaktu kecil Kenji tinggal bersama neneknya di sebuah rumah yang terdapat sumur kecil tua di halaman belakang. Meskipun tak berdiameter terlalu besar, sumur ini dalam dengan air yang sungguh keruh. Tak jarang nenek Kenji melarangnya bermain di sekitar sumur, karena tak pernah ada yang tahu pasti seberapa dalamnya. Satu waktu salah satu murid senior sekolah dasar Shogakko dan dibantu beberapa anak lainnya dengan sengaja membuang topi favorit Kenji ke dalam sumur kecilnya. Lantaran topi Kenji dibekali dengan sepasang wadah air minum berbentuk silinder, yang kala itu banyak dipakai oleh anak-anak kecil, Kenji dengan pasrah hanya bisa melihat topinya perlahan tenggelam, meninggalkan dirinya yang terisak dan menyesalkan hal itu hingga lama.

Dalam hari-hari dan berminggu setelah kejadian itu, Kenji sering membayangkan kalau sumur tersebut mungkin terlalu dalam dan topinya masih belum lah mencapai dasar. Ia memanjati dinding sumur itu dan entah karena sebab apa, kakinya tergelincir dan mendorong tubuhnya ke dalam sumur. Kenji melayang di kedalaman air yang dingin dan pekat, mencari topinya yang sekarang mungkin sudah ditumbuhi lumut hijau tak diundang. Bagaimanapun, yang paling membuatnya terkejut yaitu saat ia akhirnya menemukan topinya di akar pohon yang menjuntai dari dinding sumur, namun saat ini dengan wadah penampung air minum yang terpasang justru terisi dengan udara untuk membantunya bernapas melalui lubang sedotannya. Kenji tahu ia akan bisa memakai topi favoritnya lagi, tapi dengan ganjaran akan selamanya berada di dalam sumur dan tak pernah bisa kembali ke halaman belakang rumahnya.

“Kau sudah berdiri di situ selama sepuluh menit. Kau akan melakukannya atau tidak?” ujar Sato menembus kepala Kenji.

“kau tidak bisa menunggu diam saja barang sebentar?”

“Cahayanya hilang kalau semakin sore.”

“Tenang saja. Kau akan mendapatkan fotonya,” Kenji meyakinkan. “Lagipula pekerjaanmu tidak akan hilang hanya karena satu hari tidak masuk.”

“Satu hari hanya hari ini. Dua hari kalau kau belum melakukan ini juga.”

“Ya ampun, dua tahun menjadi pegawai perusahaan sekarang kau jadi perhitungan soal waktu.”

“Dua tahun kerja freelance kau belum tahu memakai waktu lebih baik daripada ini. ”

“Sialan.”

“Dasar bodoh.”

Sato berdiri dengan santai menghabiskan isi sebotol cola yang ia pegang di tangan kanannya. Di lengan kirinya tergantung kamera Fujifilm bekas pemilik sebelumnya, paman yang ia kenal sebagai pemandu wisata pemandian air panas yang mendadak buta. Pamannya mengaku kalau suatu hari melihat bidadari yang berendam. Saat bidadari itu mengangkat dirinya keluar dari bak air, yang ia ingat hanyalah dirinya seketika buta. Sato tahu versi asli cerita pamannya yang hanya sering ia ceritakan kepada kucing peliharaannya, tapi memilih tak mau membahasnya. Menurut Sato kalau pun ada, bidadari akan muncul di kolam, bukannya bak permandian.

Sebenarnya Sato hanya melakukan ini karena Kenji memintanya, tapi sejujurnya telah lama ia menanti momen penentuan Kenji. Ia juga ada di sana ketika Kenji melakukannya terakhir kali. Mereka adalah mahasiswa tingkat akhir yang tak memiliki kegiatan apapun yang berarti selain bekerja part time di sebuah mini market dan menyelesaikan tugas akhir. Kenji mengeluh kalau ia tak bisa menyelesaikan pekerjaan apa pun, dan penyebabnya adalah pikiran sama yang dari dulu menghuni kepalanya. Ketakutan terbesarnya adalah karena suatu sebab, ia akan terjatuh dari ketinggian entah kapan dan di mana. Kejatuhannya akan berarti kematian paling menyakitkan, kata Kenji. Sekujur tulang di tubuhnya remuk. Darah yang keluar dari setiap lubang di kepalanya mengalir sampai ke saluran selokan di pinggir jalan. Belum lagi, organ-organ dalam tubuhnya akan menjadi aksesoris jalanan menemani tumpukan sampah dan kotoran hewan. Menurutnya ini bukan tanda atau ramalan. Selama ini ia tak ada masalah berada di atap gedung kamar sewa tempat tinggalnya, sehingga menurutnya ini juga bukan sebuah fobia.

“Sudah kubilang dia tak waras. Kau tak perlu mengikuti omongannya.” Kata Sato.

“Aku bukan mengikuti omongan dia. Aku mengikuti caranya.”

“Tapi kau sudah tinggal di lantai tertinggi gedung ini,” Sato mencoba meyakinkan “Kau tak perlu lagi sampai sejauh itu mengikuti tantangan tololmu.”

“Tapi Aku yakin ini tak akan sukses jika Aku melakukannya tanpa resiko.”

“Jadi kau yakin?” Ujar Sato sedikit meragukan kewarasan temannya ini.

“Paling parah aku hanya terjatuh di tumpukan kasur, kan?” Jawab Kenji tenang.

“Atau bisa saja kepalamu lebih dulu menabrak gedung sebelah dan kau sudah mati sebelum mencapai bawah.” Kata Sato tak membalas lelucon Kenji.

“Aku tak memintamu ke sini untuk mengarang skenario yang lebih buruk.”

“aku sudah bilang kalau pamanku orang yang tak waras kan?”

“Kau sudah bilang seribu kali.”

Kenji melompat. Matahari terik di atas kepala mereka. Ia hanya tampak seperti bayangan hitam tanpa tubuh yang melayang di jarak antara dua gedung. Kakinya menjangkau dengan kaki kanan membentang lebar berada di depan dan kaki kiri yang berlawanan di belakang. Kedua lengannya menekuk, mencoba menemukan posisi paling seimbang tubuhnya. Lompatan menakjubkan selama sepersekian detik yang terasa lama. Sato mengingat dengan jelas lompatan Kenji sore itu. Sayangnya, satu hal yang tak bisa dilihat Sato adalah ekspresi pucat Kenji ketika di tengah-tengah udara, ia sadar tak akan berhasil mencapai atap seberang, dan betapa ia tak tahu akan menjelaskan apa pada Noriko jika terjadi sesuatu pada dirinya.

“Kau terlalu banyak mengobrol dengan kucingmu!” Kata Noriko ketus, jari telunjuknya menjangkau pelipis kiri Kenji dan mendorong kepalanya sekeras mungkin.

“kenapa kau membawa-bawa Louison?”

“Jadi sekarang kau memberinya nama juga?!”

Kenji menyesal kenapa ia menyebut-nyebut pikiran tololnya kepada Noriko ketika itu. Mereka sedang berada di atap gedung kamar sewa yang ia tempati berdua dengan Sato. Jika tak ada hamparan jemuran milik pengelola gedung sewa yang menghalangi pandangan mereka, dari tempatnya duduk Kenji bisa melihat rumah sakit tempat Noriko belajar sebagai mahasiswi di akademi keperawatan Kango. Ia belum lama mengenal Noriko karena kejadian yang kurang menguntungkan, dan bisa dibilang, memalukan.

Sato melarikan Kenji ke rumah sakit terdekat saat menemukan temannya tak sadarkan diri di bawah beranda kamar mereka di lantai tiga. Ketika akhirnya sadarkan diri tanpa luka terlalu serius, Kenji menemukan Sato di sebelah ranjang rawatnya dengan senyum paling lebar yang pernah ia lihat. Sewaktu ia menanyakan jika Sato tahu sesuatu, Sato menjelaskan kalau ia sudah mengurus semuanya. Kenji tak perlu mengkhawatirkan apa-apa tentang kenapa ia berada di rumah sakit. Dari kesaksian Sato, Kenji tak sengaja jatuh dari beranda saat memperhatikan wanita penghuni kamar gedung sebelah sedang berganti pakaian. Pihak gedung sewa dan rumah sakit tak menganggap hal itu perlu dipermasalahkan lebih jauh, apalagi karena kondisi Kenji yang tak serius. Selain satu suster yang ngotot menanyaiku kebenarannya, rahasiamu masih aman, Sato menjelaskan dengan bangga, masih dengan senyum tololnya. Sampai terakhir, Kenji mengenal Noriko sebagai suster pelajar yang paling manis kepadanya di rumah sakit itu. Barangkali karena dia tahu soal kenapa Kenji terjatuh atau hal lainnya, namun bagaimanapun, Kenji tak peduli.

“Meskipun tak bisa bicara, setidaknya Louison lebih baik dari semua orang yang saya kenal”

“Mana ada kucing yang baik atau jahat”, Ujar Noriko menatap Kenji setengah tak paham “Dari awal mereka kucing, bukan manusia.”

“Kau tak mengerti maksudku.”

“Tentu saja Aku mengerti,” Noriko meraih tangan Kenji dan mengangkatnya ke pangkuannya. “Aku tahu Kau membenci hampir semua orang, tapi menurutmu kau bahkan masih lebih baik dari semua orang yang pernah kau kenal. Kau mungkin seperti kucing.”

“Tapi kucing tak perlu menjadi baik atau tak baik.” Ujar Kenji menimpali. “Manusia berbeda. Setiap saat kau harus menjadi seperti yang diharapkan masyarakat. Setiap hari hanya tentang berusaha menjadi orang yang baik, atau kau akan menjadi jahat”

“Kau hanya perlu berusaha melakukan yang kau sendiri pikir baik, bukan yang semua orang lain pikir baik”

“Tetap saja, menurutmu itu tidak melelahkan?”

“Menjadi baik melelahkan. Tapi hidup tidak.”

“Tapi bukannya hidup hanya soal menjadi orang baik?”

Noriko berdiri dari bangku yang didudukinya. “Siapa bilang? Kau hanya perlu bahagia. Itu lebih baik” Ia mengangkat kedua tangannya, menghembuskan napas panjang ke udara dan menutup pembicaraannya dengan Kenji. “Kalau kau masih mau melakukannya, setidaknya lakukanlah karena itu akan membuatmu bahagia”

“Kau tak ingin melihatnya nanti?”

Kenji melompat. Matahari terik di atas kepala mereka. Ia hanya tampak seperti bayangan hitam tanpa tubuh yang melayang di jarak antara dua gedung. Kakinya menjangkau dengan kaki kanan membentang lebar berada di depan dan kaki kiri yang berlawanan di belakang. Kedua lengannya menekuk, mencoba menemukan posisi paling seimbang tubuhnya. Lompatan menakjubkan selama sepersekian detik yang terasa lama. Sayangnya, Kenji terjatuh. Tubuhnya meluncur di antara dua gedung apartemen sewa. Darah dan oksigen mengalir memenuhi kepalanya yang berada di posisi lebih rendah. Ia merasakan nyeri di dadanya yang menabrak sisi atap gedung sebelah. Dadanya nyeri, tapi sekujur bagian tubuh lainnya hampir kebas, tak merasakan apapun. Rasanya ia melayang dan semakin kehilangan beban. Lama sekali tubuhnya tak merasakan apapun. Tangannya berusaha menggapai di udara, tak menemukan apapun yang bisa ia jangkau.

Kecuali tangan kucing itu.

“Apa kau tak mengerti juga?” tanyanya ke Kenji. “Kau hanya bisa mengambil resiko terbesar. Kau akan mencapai tumpukan kasur yang sudah kau persiapkan. Namun setelah itu, semuanya akan sama lagi. Selamanya kau akan merasa kapan saja akan terjatuh dari ketinggian dan menemui ajalmu.” Dia meraih lengan Kenji dengan cakarnya dan memanjati rambut dan ke atas kepalanya. Sekepul asap dari pipa rokok yang ia hisap membuat mata Kenji perih. “Bodoh, lihatlah”, ia mengetuk kepala Kenji dengan pipanya dan menunjuk ke arah permukaan tanah. “itu hanya tanah. Kau kira tanah itu lebih menakutkan dibandingkan kepalamu ini?! Kau jatuh, tapi tak akan sampai di manapun. Sepotong kasur remuk di bawah sana tak akan pernah menyambut tubuhmu. Kau berada di sebuah kekosongan. Hal fisik dan waktu tak pernah berlaku. Apa kau sadar sudah berapa lama kau jatuh?” Kenji melihat menarik lengannya. Jam digitalnya masih menunjukkan angka 5 pas seperti saat ia melompat tadi.

“Apa selamanya akan seperti ini?”

Kucing itu menyentil pipanya dan menjatuhkan abu di atas dahi Kenji sebelum akhirnya menghilang. Kenji baru ingat kalau paman Sato sangat gemar menghisap rokok pipa semasa ia hidup. Kucing tadi telah lama mati bersama paman sato di sebuah kecelakaan kereta. Sato pernah bilang pamannya sengaja menyeberangi rel kereta cepat untuk menyembuhkan kebutaannya. Menurutnya ia akan bisa melihat lagi jika mampu menyeberang tanpa bantuan apapun. Ia melakukannya beberapa kali dengan hasil luka kecil hingga operasi darurat, sampai akhirnya ia tak pernah berhasil juga.

Jepretan flash kamera menyadarkan Kenji. Dari tumpukan kasur tempatnya tersadar dulu, sekarang ia kembali di atap gedung kamar sewanya bersama Sato. Kamera yang juga membangunkannya saat terjatuh dulu masih berfungsi baik dengan tambahan tali dari kulit yang sepertinya belum lama dipasang oleh Sato.

“Ngomong-ngomong, Kau akan datang ke acara pernikahanku, kan?” Sato memeriksa hasil jepretannya, tampak tak puas.

“Memangnya kapan kau menikah?” Kenji berbalik menatap Sato yang juga terlihat tak percaya.

“Aku sudah mengirimimu undangan bulan lalu,” jawab Sato dengan kesal. “Jika tak sampai, setidaknya kau bisa membaca pesan di ponselmu.”

“Ponselku sudah lama tak terpakai. Selain dari kau sendiri, biasanya tak ada lagi yang mengabariku tentang kehidupan mereka yang membosankan.”

“Apa Kau tak mengharapkan kabar dari Noriko juga?”

“Terakhir kali Noriko juga tak ada di sini. Kau kira ia pernah mau menghubungiku?”

“Jadi kau tak pernah bersama orang lain lagi?”

“Tak perlu kau tanya. Dan kau tahu semuanya akan sama saja seperti yang lainnya.”

“Dasar bodoh.” Ujar Sato dengan nada tawa tak percaya terhadap temannya. “Kau tak perlu menipu dirimu sendiri. Kau bukan tak ingin mengenal orang karena akhirnya kau akan membenci mereka juga. Kau hanya takut kalau sebaliknya, kau akan benar-benar menyukai mereka. Seharusnya kau lebih sering menemui banyak orang.”

“Nasihatmu terdengar aneh. Lebih cocok jika itu diucapkan Noriko. Tidak seharusnya pekerja kantoran mengatakan hal seperti itu.”

“Sialan. Aku bekerja, tapi juga hidup selama dua tahun ini.”

“Jangan sombong.” Kenji melihat jam digitalnya. Angka 04:45 tampak di layar jam. “Sebentar lagi Aku pun bisa hidup saat berhasil melompat.”

“Tapi sebaliknya, jika tak berhasil kau akan mati?” Tanya Sato. “Kau sadar tak ada setumpuk kasur lagi yang menunggu di bawah.”

“Setidaknya aku jadi tahu aku pernah hidup, kan?”

“Bagaimana caranya? Kau mati, otakmu tak akan bisa berpikir lagi. Kesadaranmu hilang dan darah yang mengalir di sekujur tubuhmu akan berhenti.”

Kenji tak mengatakan apapun. Ia tahu tak mungkin menjelaskan kalau ada hal lebih buruk daripada selamanya hidup di bawah air di dalam sumur kecil di halaman belakang. Ia sadar ada hal lebih buruk daripada kematian paling menyakitkan dengan tubuh yang hancur dan menjadi bangkai di jalanan sebelum dirinya benar-benar mati. Baginya, ini satu-satunya cara. “Kau sudah siap?!” Teriak Kenji.“Lima menit lagi. Kau harus ambil gambar yang paling bagus.”

“Hei, tunggu,” Sato berlari mendekat ke tempat Kenji berdiri beberapa langkah dari tepi atap gedung “Kau yakin akan berhasil dan tetap hidup?”

“Tentu saja.” Jawab Kenji singkat.

“Dengar, Kau tak perlu ke seberang sana dengan satu lompatan. Kau hanya perlu menuruni tangga gedung ini dan memasuki gedung sebelah dan melompati setiap anak tangganya.”

“Aku tak mengerti ocehanmu. Lalu apa gunanya aku sudah mencoba ini sejak awal?”

“Aku mau Kau datang bersama Noriko ke pernikahanku.”

Kenji tak bisa menahan tawanya mendengarkan ocehan Sato yang terdengar lebih gugup daripada dirinya sekarang. “Jangan melantur di saat sekarang.”

“Tapi aku serius. Kau harus menemui Noriko sendiri.”

“Menemui Noriko?”

“Benar. Kau tahu, Aku tak sendirian ke sini.”

“Maksudmu?”

“TAMURAAA!”

Angin menghembuskan syal merah yang terkalung di leher Noriko. Sebuah topi rajutan dari wol menghiasi kepalanya. Rambutnya kelihatan lebih panjang dari yang diingat Kenji. Ia juga tampak lebih mengembang dari dirinya yang terakhir dilihat Kenji di atas atap tempatnya berdiri sekarang. Di atas atap gedung sebelah, Noriko memasang kedua tangannya membentuk teropong di sekeliling mulutnya, berteriak memanggil nama Kenji sekali lagi. Sekarang tepat pukul lima. Akhirnya Kenji melompat, namun kali ini melangkahi setiap anak tangga gedung kamar sewanya.

Ayam Jago dan Petani Kedelai


(Art: Soybean field, Wayne Ferrebee)

Suatu subuh yang dingin di akhir bulan Januari, sekujur piyama Pak Menteri basah oleh keringat. Semalam dia ingat telah memastikan suhu pendingin ruangan berada di angka 23 derajat Celcius. Tentu cukup sejuk di penghujung musim dingin paling dingin dalam sepuluh tahun ini. Lalu sebenarnya apa penyebabnya? Kenapa pak menteri mendadak terbangun dengan keringat dingin dan wajah setegang ekspresi tokoh kerajaan dalam lukisan abad 19 saat fajar baru akan tiba?

Suhu di kota malam itu memang dingin, dan bahkan karena terlalu dingin, sekitar enam kilometer dari kediaman Pak Menteri, kedelai-kedelai milik Louison tampak gelisah di dalam selimut hijau muda mereka. Beberapa pohon kedelai usia muda tampak menggetarkan dedaunan dan ranting mereka, sangat mirip dengan ketika manusia menggigil kedinginan.

Seingat Louison, dirinya sudah lama menjadi petani kedelai di kotanya dan tidak ingat kapan ia pernah tidak menjadi petani kedelai. ketika orang-orang beralih menjadi petani modern dengan beragam produk modifikasi, Louison lebih suka memelihara kedelai asli. Menurutnya, sangat aneh orang-orang mau memilih kedelai dengan pilihan bentuk dan tambahan rasa, belum lagi dengan kelebihan mengeluarkan satu kata dari stomata daun tanaman kedelai yang bisa dipilih oleh setiap petani di antara tiga kata: “siram”, “panen”, dan “angkut”. Astaga, bikin dia merinding jika membayangkan kedelainya suatu saat akan mengembangkan kemampuan sendiri untuk menyebutkan kata ‘Dingin’. Selain alasan itu, tentu saja karena dia juga memang miskin.

Malam ini Louison mendapat giliran mengawasi lahan tanaman kedelainya menggantikan Pak Pierre yang telah izin lebih awal untuk mengantar istrinya melahirkan. Katanya dia tak sabar melihat sang ahli botani masa depan saat lahir. Dulu Pak Pierre sudah memilih paket rancangan yang bisa memastikan bahwa kelak anaknya akan memiliki kecerdasan lebih di bidang biologi. Semoga saja dia tidak kelewatan mengatur warna kulit anaknya agar menyerupai warna kulit pembungkus kedelai ketika kedinginan.

Dini hari jam 4 Louison telah bersiap untuk tidur. Ia berpikir matahari fajar akan cukup menghangatkan lahan kebunnya agar tak menjadi makam masal tanaman kedelai. Louison meneguk susunya hingga tandas dan baru saja akan memasuki rumah, ketika sebuah suara menghentikannya. Awalnya satu suara, lalu diikuti oleh rentetan suara lainnya.

“ayam…!”

“ayam! ayam!”

“ayam, ayam, ayam, ay…!”

Suara-suara yang terdengar tak lain berasal dari pohon-pohon kedelainya. Namun sebelum mati keheranan, perhatian Louison teralihkan kepada sosok bayangan di ketinggian. Berdiri membelakangi cahaya matahari yang baru akan terbit, dari atas sebuah pohon tinggi di perbatasan ladang, dengan gagah membusungkan dada seekor ayam jago mengumandangkan gaung kokok terkeras yang pernah kota itu dengarkan!

“Kumpulkan para petugas kementerian!” teriak Pak Menteri.

Segera Asisten kementerian bergegas meninggalkan mejanya. Ia belum pernah melihat raut wajah pak Menteri yang setegang itu. Kecuali satu kali, jika ia benar mengingat, yaitu saat Ayam Jago terakhir yang dipercayakan Pak Menteri meloloskan diri dari kandangnya.

“mereka sepuluh orang yang siap untuk berangkat, pak”, lapor Asisten Menteri.

“Kau sudah menyiapkan muatannya?”

“Ya, sepuluh ton di masing-masing helikopter”

“Kalian tahu apa konsekuensi mencuri binatang di negeri ini!”, teriak Pak Menteri dengan lantang membuka pidato. “Dan tak ada yang lebih penting dari keberadaan ayam jago yang telah kita miliki selama sepuluh tahun!”

Raut wajah tegang pilot menegaskan akan pentingnya misi yang akan mereka emban. Tadi subuh pak menteri tak repot membuka piyama kebesarannya dan sampai sekarang masih mengenakan piyama putih berikat pinggang saat berdiri di lapangan udara di belakang kediamannya. Dengan pipi semerah pantat babi dan bola mata yang melotot, ia sangat sulit dibedakan dengan sosok penjagal hewan di masa lampau yang ada di dalam buku-buku cetak.

Tercatat bahwa telah hampir sepuluh tahun kota itu tak pernah lagi mengembangbiakkan hewan ternak, kecuali untuk alasan pelestarian spesies dan ilmu pengetahuan. Saat hal tersebut dimulai, jenis ayam jago terakhir yang mereka miliki dipercayakan kepada seorang Menteri yang kebetulan berasal dari kota itu. Ayam jago tersebut telah dipelihara selama hampir sepuluh tahun dan menjadi sumber benih unggul satu-satunya untuk bergenerasi ayam ras di masa yang akan datang. Menteri ini pulalah yang mengeluarkan dekrit menteri yang mewajibkan hampir seluruh warga yang termasuk dalam kelas tertentu untuk menjadi petani demi masa depan kota mereka. “Memelihara Hewan Adalah Pemberontakan”, begitu semboyan yang dipajang di hampir seluruh poster yang beredar di kota.

“Mencuri Hewan Adalah Pemberontakan!”

Meskipun yakin mendengar semboyan yang berbeda dari biasanya, mereka yang berada di lapangan dan mendengar teriakan pak Menteri hanya bisa mengulang meneriakkannya dengan keras dan seragam,

“Mencuri Hewan Adalah Pemberontakan!”

“Hei, kau juga mendengarnya, kan?”

Saat itu pukul 4.20 pagi ketika tetangga kebun sebelah Louison datang dengan ekspresi wajah tak kalah herannya. Rumah Julie-Clapet hanya berjarak 20 meter dari perbatasan kebun Louison dan ia tahu kalau selain suara kokok, pasti Julie juga mendengar suara kedelai-kedelai Louison. Sinar matahari belum tampak sama sekali dan selain mereka yang tinggal berdekatan, tak ada siapapun yang curiga suara tadi berasal dari ladang Louison.

“menurutmu mereka melakukannya sendiri?”, Kata julie membuka suara.

“Tentu saja, aku tak pernah memelihara jenis yang dimodifikasi”

“Tapi tak mungkin. Kedelai tak berpikir sendiri, Louison. Apalagi sekonyong-konyong menyebutkan “Ayam” ketika melihatnya”

“Tapi kau selalu menonton acara pertunjukan robot yang bisa menjawab sepuluh pertanyaan acak dan berseru “bingo” itu kan?”

“Itu berbeda”, jawab Julie dengan ketus.

Meskipun telah saling mengenal sejak kecil, Louison dan Julie sangat jarang memiliki pendapat yang sama akan banyak hal. Terutama soal satu isu. Louison menganggap kedelai adalah tanaman yang paling mudah yang bisa mereka peroleh sekarang, sedangkan dari awal Julie bersikeras protein tinggi dalam kentang adalah yang bisa menyelamatkan umat manusia. Karena itulah, dari dulu mereka memelihara jenis komoditas ladang yang berbeda, meskipun tetap rutin menukar hasil panen mereka satu sama lain.

Satu hal lain yang paling dibenci oleh Julie adalah Louison masih mengawetkan bergalon susu di dalam kontainer beku di gudang bawah tanah tersembunyi miliknya. Julie memang orang yang ketat menerapkan aturan dan telah mempercayai hal tersebut bahkan sejak sebelum itu menjadi resmi, tapi meski begitu, ia sama sekali tak pernah mengatakan rahasia Louison kepada orang lain. Menurut Julie, hal ini tak ada bedanya dengan saat orang-orang pernah menyembunyikan alkohol, tapi Louison tahu Julie hanya tak mau jika sesuatu terjadi pada dirinya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku hanya mau memeriksanya”

“Memangnya apa yang bisa kau periksa? Kau tahu itu sudah jelas ayam pak Menteri, sebaiknya kau segera melaporkannya, bukan menangkapnya”

“Aku tahu. Tapi menurutku ayam ini tak biasa”

“tak biasa bagaimana?”

“Kau pernah membaca kalau telah lama sekali dulu di seberang pulau, seorang warga melaporkan ayam betinanya bisa berkokok?”

“lalu?”

“Ayam betina tidak berkokok. Mereka berkotek”

“Apa yang mau kau bilang?”

Sekarang hampir seluruh warga kota itu telah terbangun. Diawali dengan sebab mendengar kokok ayam Pak Menteri, lalu seisi udara dipenuhi getar suara helikopter yang mengitari langit di atas rumah para warga. Kota mereka kecil, sehingga para warga yakin siapapun yang menangkap ayam Pak Menteri, akan bisa segera diketahui oleh petugas yang memeriksa seisi rumah dan seluruh properti milik warga. Setelah memeriksa pusat kota, perlahan para petugas bergerak menelusuri perbatasan yang dipenuhi ladang tanaman yang menggunakan lahan bertanah asli dihiasi rumah tinggal beserta setiap kendaraan panen kuno yang tak bisa ditemukan lagi di toko-toko manapun. Daerah perbatasan terkenal menjadi tempat penukaran hasil panen dan menjadi lokasi praktik bertani yang sebagian besar menentang penerapan modifikasi genetika pada tumbuhan. Karena hal tersebut tak termasuk dalam aksi melanggar hukum, mereka tetap dibebaskan memelihara apapun, meskipun dengan pajak yang lebih kecil dan hasil panen terbatas untuk negara.

“Dengar, ayam ini tak pernah berkokok. Ayam ini betina!”

Louison tak percaya yang baru saja ia temukan. Meskipun Julie tak seratus persen yakin, ditambah karena ia tak pernah melihat Louison membaca buku atau literatur apapun soal hewan termasuk bentuk alat reproduksi mereka, ia percaya Louison tak bercanda.

“Menurutmu kita harus melaporkannya?” Tanya Julie

“Kau tak serius kan? Melapor lalu dipenjara dan tak pernah bisa minum susu lagi?”

“Tapi mungkin hal ini tak sebesar yang kita bayangkan”, julie mencoba meyakinkan. “Bisa saja mereka menyimpan ayam jantan yang asli di fasilitas pemerintah di ibukota”

“Ya, dan bisa saja mereka tak memiliki ayam jantan lagi di manapun, dan bisa saja ayam ini bahkan belum lama berada di kota ini”

“Oke, lalu?”

“Kau pernah penasaran bagaimana sebenarnya rasa kentang goreng favoritmu jika ditemani dengan dua potong sayap ayam goreng?”, Tanya Louison menggoda Julie.

“Apa kau gila?! Tadi susu, sekarang ayam, kau memang tak peduli apa-apa”

“Apa kau tak pernah bisa bercanda sedikit saja? Lagipula, mereka akan sampai di sini tak lama lagi. Kita tak akan selamat jika kedapatan menyimpan ayam ini”

“Mungkin aku tahu jalan keluarnya”

“Oh ya, apa?”

Dari atas bukit di halaman sebuah klinik yang tak banyak diketahui oleh orang, Pak Pierre menyaksikan kehebohan yang dihasilkan oleh helikopter kementerian yang mengitari sepenjuru kota hingga di perbatasan tempat lahan pertanian di mana ia bekerja. Baru saja tepat jam 5 tadi, anaknya lahir dan ia senang karena akan bisa mengajarkan ilmu pertanian yang ia miliki kepada anak laki-lakinya kelak. Karena menerima kabar mengejutkan dari Louison, Pak Pierre berharap tak terjadi apa-apa kepada pemuda itu. Yang lebih mengherankan dirinya, Louison berkata bahwa ia bersama dengan Julie-Clapet akan menuju bukit belakang apartemen yang telah lama ditinggalkan pemilik beserta semua penghuninya tempat ia berada sekarang, dan bahwa semua ini justru adalah ide Julie sendiri.

Louison dan Julie telah hilang dari ladang mereka saat seruan “Mencuri Hewan adalah Pemberontakan!” dilantangkan oleh Kapten satuan petugas kementerian melalui pengeras suara dari luar halaman ladang Louison. Saat tak ada cara lain yang tersisa untuk menemukan kembali ayam jago miliknya, Pak Menteri akhirnya mengeluarkan perintah pamungkasnya. Dari sebuah helikopter yang sejak tadi mengudara, Pak Menteri mengeluarkan aba-aba untuk menjatuhkan seluruh muatan yang telah diangkut oleh helikopter lainnya.

Pagi hari pukul 5:30, saat matahari perlahan naik diawali dengan segaris cahaya emas di horizon, pertama kalinya hujan kedelai terjadi di kota itu. Seluruh permukaan kota tak luput oleh biji-biji kedelai: Jalanan, atap, sumur, kebun, kolam renang, kaleng-kaleng bekas di pinggir sungai, pot-pot di beranda apartemen, dan rambut kotor anak-anak kecil. Namun, hingga pagi benar-benar datang, ayam Jago Pak Menteri tak pernah ditemukan kembali. Kelak, peristiwa ini akan diceritakan oleh Pak Pierre kepada anak laki-lakinya sebagai legenda Hujan Kedelai Emas. Dan sekalipun, Pak Pierre tak pernah lupa menyebutkan dua orang yang berani melarikan ayam Pak Menteri di antara pohon-pohon kedelai yang mereka angkut di atas sebuah truk pertanian tua mereka.

“Kau mau coba?”, Tanya Louison menyodorkan susu.

“Astaga, kau memang tak mungkin meninggalkan kaleng-kaleng susumu!”

Louison percaya mereka akan baik-baik saja saat melihat Julie-clapet yang tersenyum pagi itu. Dari belakang mobil yang mereka kendarai, kedelai-kedelai Louison masih saja berseru “Ayam, ayam, ayam, ay…”